23 September 2016

Pulang

 radiocora.it


Tidak ada yang lebih romantis daripada Margonda malam itu
Dari lampu sorot mobil-mobil yang berbaris
Dari motor-motor yang menyalip dengan bergegas
Dari deru kendaraan mereka saat lampu merah baru saja berubah hijau

Para pekerja
Pulang saat hari jadi gelap
Lelah
Namun bertabur cinta

Rindu pada keluarga
Pada istri yang dinikahi setelah menabung bertahun-tahun
Pada anak-anak yang masih kecil
Yang membuat cemas ketika sakit
Yang kerap memanggil dengan hati
Untuk segera
Pulang



18 September 2016

Know Who You Are (Bab 1 It's Not About the Coffee)

theodysseyonline.com



One Hat. Ini adalah gagasan utama yang seringkali digaungkan dalam bab 1 buku It’s Not About the Coffee karangan Howard Behar. Ia punya alasan atas hal ini.

Melalui bukunya, Behar menekankan pentingnya mengenali diri sendiri sebagai langkah menemukan jatidiri. Ia bilang,

Wearing one hat is the epitome of personal leadership. It is the starting point—and the end point—of the lifelong process of discovering who you are and what you stand for.

Istilah one hat, satu topi, Behar pinjam dari tulisan Edward de Bono, Six Hat Thinking. Melalui istilah ini, Behar menekankan pentingnya mengenali diri sendiri sebagai langkah awal menuju perjalanan hidup; siapa kita, ke mana kita mau menuju, dan bagaimana cara kita mencapai tujuan itu. Dengan demikian, konsisten terhadap value diri sendiri adalah kata kuncinya.

Our personal hat, our one hat, is a metaphor for being consistent with oneself. What you see is what you get.

Kita sadar bahwa seiring bertambahnya usia, ada banyak pengaruh dari luar diri yang membuat kita tidak menjadi diri sendiri, misalnya hal-hal yang berkaitan dengan uang. Akibatnya, kita sering tidak konsisten dalam setiap keputusan/pernyataan yang kita buat. Kita merasa tidak bergairah dengan kehidupan yang kita jalani karena tidak jujur terhadap diri sendiri.

Selain itu, kita juga kadang menggadaikan ‘value’ yang kita anut, yang diajarkan orangtua sedari kecil, yang kita yakini sebagai kebenaran. Howard Behar pernah melakukan ini. Satu teguran dari rekan kerjanya membuat ia menyesalinya kemudian.

Jujurlah terhadap diri sendiri, terhadap mimpi yang akan dan sedang kamu kejar. Mimpi itu mungkin akan mengalami pergeseran, namun biasanya tidak berubah 180 derajat. Howard Behar sendiri mengira passion-nya dahulu adalah dunia furnitur. Namun, pada titik tertentu, ia menyadari bahwa manusia adalah passion-nya. Karenanya, berpindah dari perusahaan furnitur ke Starbucks tidak menjadi masalah baginya. 
Meskipun demikian, Behar mengingatkan bahwa jujur terhadap diri sendiri bukan berarti tidak menerima masukan dari orang lain. Ketika ada masukan dari orang lain, tanyakan diri sendiri, apakah masukan itu sejalan dengan nilai-nilai kebaikan, dengan tujuan hidup yang sudah kamu setting (termasuk passion yang kamu miliki), atau dengan kebenaran yang kamu yakini. Bila sesuai, masukan itu harusnya akan memperkuat dan menyempurnakan kepribadian kita.

Dalam pilihan karier yang kamu jalani, kejujuran akan diri sendiri juga membuahkan produktivitas yang baik. Behar mengutip tulisan Ken Blanchard dan Spencer Johnson, The One Minute Manager.  

“People who feel good about themselves produce good results.”

Dalam konteks organisasi, termasuk organisasi kerja alias perusahaan, one hat diterjemahkan sebagai visi. Leader punya peran penting terkait hal ini. Kejujuran dan kesetiaan manajemen perusahaan terhadap visi organisasi, pada akhirnya, akan menentukan apakah visi itu benar-benar dijalankan atau sekedar kata-kata mutiara yang menjadi hiasan di dinding kantor.

Pada bagian akhir, Howard Behar bertanya kepadamu.

  1. Apa yang kamu sukai? Apa yang membuatmu ingin melakukannya?
  2. Mimpi apa yang kamu miliki? Mimpi besar. Tuliskan.
  3. Hal-hal apakah yang menghampirimu selama proses mencapai mimpi?
  4. Hal-hal apa saja yang udah nggak mau kamu lakukan lagi?
  5. Ketika berusia 20-30an, kamu mau dikenal sebagai siapa? Bagaimana kamu ingin diingat orang?
  6. Siapakah pribadi yang memiliki pengaruh besar di sekelilingmu? Siapa yang menginspirasimu untuk maju melampaui batas potensimu?
  7. Di mana kamu mengaktualisasikan passion kamu sekarang?
  8. Apakah yang membuatmu bergerak menuju tujuan-tujuan hidupmu (goals) sekarang? Apakah kamu sedang melakukannya? Bila tidak, kenapa? Bisakah kamu melakukannya?
Pada akhir bab, ia mengungkapkan kalimat-kalimat yang saya sukai.

"When you know who you are, you will see a path of possibility literally unfold before you. You will be gently guided to follow it, or you will create your own opportunity. Each life is filled with possibilities, but most of us miss the magical places to dig. Keep your eyes open, and you will find the treasure."

(Sebelumnya: Membuat Ulbab)

11 September 2016

Membuat Ulbab

ippandco.com


Waktu lagi asyik-asyiknya ngeblog, waktu smartphone belum ada dan OS semua ponsel masih embedded system atau paling bagus Symbian, waktu gue masih ganteng (dan sampai sekarang masih ganteng), gue meniatkan diri untuk tidak hanya menjadi penulis yang menghibur tetapi juga insightful.

Artinya, tulisan gue harus bermanfaat sekaligus menghibur meskipun seringkali hasilnya udah kayak dubur.

Gue mencoba menghidupkan itu kembali. Mencoba untuk otentik sama diri sendiri. Mencoba menjadi Zulfian, bukan orang lain. Mencoba memberikan karya dengan mutu yang lebih baik, bukan sekedar populer.

Kita semua tahu bahwa seorang penulis memulai kariernya dari membaca. Seorang penulis adalah pembaca, meskipun setiap pembaca belum tentu adalah seorang penulis. Gue mulai menemukan ulang diri gue dari sini.

Tekad butuh komitmen. Demi melancarkan niatan disiplin membaca, gue akan mengulas setiap buku yang sedang dibaca di sini. Membuat resensi. Ulasan. Namun bukan ulasan keseluruhan buku, melainkan ulasan setiap bab. Gue menyebutnya ulbab. Ulasan bab.

Mulai pekan depan, gue akan membuat satu ulbab setiap pekan. Ulbab gue dimulai dari buku yang dulunya jadi bahan skripsi (dan entah kenapa sampai sekarang nggak kelar-kelar dibaca). Judulnya "It is Not About the Coffee" karya Howard Behar. Bukunya insightful, beneran. Kalian mesti bakal suka deh.

...dan kalau ternyata gue belum bikin juga, jangan sungkan untuk 'teror' gue di facebook, ya. Hahaha.


Salam!

Update:
Gue udah bikin lanjutan post ini. Baca di sini, ya. Makasih, temen-temen. :)

25 August 2016

Kerja Sampai Mati

 lifehack.org



Kerja, kerja, kerja!
Demi gaji yang tidak seberapa
Dipotong cicilan rumah tangga
Dan jaminan hari tua yang belum tentu ada

Kerja, kerja, kerja!
Berangkat ke kantor habis dua jam
Senggol kaca spion di jalan dilanjut saja ke baku hantam
Sampai di rumah sudah larut malam

Kerja, kerja, kerja!
Mengerjakan perintah bos
Halal-haram mari diterobos
Yang penting target lolos

Kerja, kerja, kerja!
Jaga etos jangan sampai bolos
Berpikirlah agar kerja Sabtu-Minggu tetap jos
Siapa tahu nanti dilirik bos

Kerja, kerja, kerja!
Ayo kerja terus sampai mati!


03 August 2016

Sepucuk Cinta dari Seorang Lelaki Cerewet



theodysseyonline.com

Wahai kamu,
aku baru saja menancapkan sebatang rokok yang baru dua-tiga kali kuhisap, semata-mata untuk menegaskan bahwa detik-detikku di sini sangat membosankan, jauh lebih membosankan daripada harus menulis kalimat “Saya berjanji akan mencatat lebih cepat” yang dahulu ditulis berulang-ulang sebagai hukuman karena terlalu asyik mengobrol denganmu. Kamu tahu bahwa waktu adalah makhluk yang dengki. Sekali kita mengobrol, dia diam-diam akan berlari cepat dan membuat kita disetrap.

Wahai kamu,
belasan tahun berlalu sejak peristiwa itu. Namun, keasyikan mengobrol dengamu tidak juga ada habisnya. Waktu jelas tidak akan pernah berubah, tetap dengki seperti biasanya. Iya, waktu masih juga dengki kepadaku yang selalu saja memiliki cara untuk mengobrol tanpa pernah kehabisan cerita untuk dibagi denganmu. Akhirnya, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah memangkas durasi pertemuan kita. Waktu jelas tidak pernah berubah, pencemburu seperti biasanya.

Wahai kamu,
aku sepenuhnya sadar tentang kedengkian waktu atas kedekatan kita. Ketika tidak ada kamu, waktu bilang bahwa aku adalah laki-laki egois; mendominasi pembicaraan dengan ribuan, bahkan jutaan, kata yang kusembur padamu tanpa lelah. Padahal, kamu juga berbicara padaku, melalui tatap yang teduh, lirik yang sesekali jahil, kernyitan protes di dahi, senyum yang perlahan tersungging, hingga tawa lepas yang menampilkan barisan gigi putih nan tersusun rapi. Sekali aku mencoba untuk berhenti, kamu marah. Katamu, hobimu adalah mendengarkan aku berbicara. Katamu pula, suaraku merdu, semerdu cuitan burung-burung peliharaan bapakmu. Aku protes. Kamu lalu tertawa sambil mencubit pipi kananku. Aku menerima cubitan itu dengan senang hati, terutama karena sebelumnya kamu tampak murung dan begitu tertutup pada orang lain, termasuk pada waktu yang sempat meniru gayaku demi mendapatkan kamu namun gagal sehingga mencela gayaku sebagai bentuk egoisme.

Wahai kamu,
demi menenangkan waktu yang kian lama kian gusar, aku akhirnya menuruti aspirasinya untuk menjadi manusia pendengar. Namun, aku juga tidak mau mengacaukan hobimu. Karenanya, aku biasakan diriku berkicau terlebih dahulu, lalu melemparkan tanda tanya yang begitu kamu menangkapnya, rangkaian kata-kata akan keluar dengan sendirinya dari bibir mungil itu. Iya, aku menemukannya ketika sedang jalan-jalan di tempat yang sebaiknya tidak kamu ketahui. Kurasa, tanda tanya ini akan membantumu sehingga aku ambil dan simpan dalam saku celana. Benar. Tanda tanya ini memang ajaib. Hari demi hari, rangkaian kata yang keluar dari mulutmu semakin banyak. Kamu terlihat lebih bebas dalam mengekspresikan apapun yang hari ini kamu jumpai lewat kata; nenekmu yang setiap hari bertanya siapa namamu, pakdemu yang hobi jalan-jalan, juga ibumu yang beberapa kali memaksa burung-burung peliharaan suaminya untuk mencoba resep baru yang hari itu ia ciptakan.

Wahai kamu,
setelah perdebatan panjang dan melelahkan, waktu akhirnya mengizinkan kita berdua. Aku menemuinya saat kamu lelap dalam tidur, dilenakan oleh nyanyian purnama yang beberapa hari sebelumnya kumohon dengan sungguh untuk bersekongkol hingga pertemuanku dengan waktu terjadi tanpa harus membuatmu cemas. Tidak, aku tidak berkelahi dengan waktu. Aku berbicara padanya baik-baik. Kepadanya, aku minta ia ikhlas membiarkan kita bersatu, lebur dalam cinta yang menjadi kata-kata kegemaran para musikus. Dia setuju! Ah, kamu tidak tahu betapa kali ini tidak ada satu kata pun yang berwenang mewakili kegembiraanku. Kamu ingat senyumnya yang agak dipaksakan dalam pesta pernikahan kita? Iya, itu dia buat dengan susah payah. Aku kesulitan berhenti mengucap terima kasih atas upayanya tersenyum kala itu.

Waktu memang jadi jauh lebih bersahabat sejak itu, meski tetap saja ia jomblo. Kita selalu dengan ramah menyambut kedatangannya. Oh, kamu juga tak pernah lupa menyajikan biskuit kesukaannya, bukan? Lengkap dengan secangkir teh hangat tempat ia mencelup biskuit, sebelum dengan sok imut, memakannya. Waktu juga yang menjadi paman sekaligus teman bermain anak-anak kita. Kita menganggapnya bagian dari keluarga, bekerjasama dengannya dalam setiap perencanaan keuangan.

Namun, sayangku,
waktu bekerja untuk Tuhan. Dia harus patuh pada Tuhannya. Dalam kunjungan terakhirnya, saat kamu sedang sibuk membuat teh dan menyiapkan sepiring biskuit, terjadilah pembicaraan serius itu. Katanya, dia tidak bisa lagi membantuku. Tuhan memintaku kembali dengan mengutus ajal ke dunia. Waktu bilang, ajal akan menemaniku bertemu Tuhan. Sementara itu, waktu akan menemanimu mengasuh anak-anak hingga akhirnya ajal kembali untuk menjemputmu. Saranku, tetaplah berkawan dengan waktu. Ajarkan anak-anak kita hal yang sama demi kebaikan mereka.

Wahai kamu, wanita termanis yang pernah ada,
aku sudah melihat siluet ajal dan waktu dari kejauhan. Karenanya, kucukupkan baris kataku sampai di sini. Mohon maaf tak bisa berpamitan langsung. Kamu tahu aku tidak pernah tahan melihat tetes-tetes air mata itu.

Bersama surat ini, aku selipkan pula sisa peluk dan cium yang kupunya untukmu. Semoga cukup untuk menemanimu membesarkan anak-anak. Bila memang tidak, mintalah pada Tuhan untuk mengirimkan gantinya. Ah, bukankah Tuhan Maha Memberi?


Dari tempat tersepi di dunia,
Lelakimu yang Cerewet