25 August 2016

Kerja Sampai Mati

 lifehack.org



Kerja, kerja, kerja!
Demi gaji yang tidak seberapa
Dipotong cicilan rumah tangga
Dan jaminan hari tua yang belum tentu ada

Kerja, kerja, kerja!
Berangkat ke kantor habis dua jam
Senggol kaca spion di jalan dilanjut saja ke baku hantam
Sampai di rumah sudah larut malam

Kerja, kerja, kerja!
Mengerjakan perintah bos
Halal-haram mari diterobos
Yang penting target lolos

Kerja, kerja, kerja!
Jaga etos jangan sampai bolos
Berpikirlah agar kerja Sabtu-Minggu tetap jos
Siapa tahu nanti dilirik bos

Kerja, kerja, kerja!
Ayo kerja terus sampai mati!


03 August 2016

Sepucuk Cinta dari Seorang Lelaki Cerewet



theodysseyonline.com

Wahai kamu,
aku baru saja menancapkan sebatang rokok yang baru dua-tiga kali kuhisap, semata-mata untuk menegaskan bahwa detik-detikku di sini sangat membosankan, jauh lebih membosankan daripada harus menulis kalimat “Saya berjanji akan mencatat lebih cepat” yang dahulu ditulis berulang-ulang sebagai hukuman karena terlalu asyik mengobrol denganmu. Kamu tahu bahwa waktu adalah makhluk yang dengki. Sekali kita mengobrol, dia diam-diam akan berlari cepat dan membuat kita disetrap.

Wahai kamu,
belasan tahun berlalu sejak peristiwa itu. Namun, keasyikan mengobrol dengamu tidak juga ada habisnya. Waktu jelas tidak akan pernah berubah, tetap dengki seperti biasanya. Iya, waktu masih juga dengki kepadaku yang selalu saja memiliki cara untuk mengobrol tanpa pernah kehabisan cerita untuk dibagi denganmu. Akhirnya, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah memangkas durasi pertemuan kita. Waktu jelas tidak pernah berubah, pencemburu seperti biasanya.

Wahai kamu,
aku sepenuhnya sadar tentang kedengkian waktu atas kedekatan kita. Ketika tidak ada kamu, waktu bilang bahwa aku adalah laki-laki egois; mendominasi pembicaraan dengan ribuan, bahkan jutaan, kata yang kusembur padamu tanpa lelah. Padahal, kamu juga berbicara padaku, melalui tatap yang teduh, lirik yang sesekali jahil, kernyitan protes di dahi, senyum yang perlahan tersungging, hingga tawa lepas yang menampilkan barisan gigi putih nan tersusun rapi. Sekali aku mencoba untuk berhenti, kamu marah. Katamu, hobimu adalah mendengarkan aku berbicara. Katamu pula, suaraku merdu, semerdu cuitan burung-burung peliharaan bapakmu. Aku protes. Kamu lalu tertawa sambil mencubit pipi kananku. Aku menerima cubitan itu dengan senang hati, terutama karena sebelumnya kamu tampak murung dan begitu tertutup pada orang lain, termasuk pada waktu yang sempat meniru gayaku demi mendapatkan kamu namun gagal sehingga mencela gayaku sebagai bentuk egoisme.

Wahai kamu,
demi menenangkan waktu yang kian lama kian gusar, aku akhirnya menuruti aspirasinya untuk menjadi manusia pendengar. Namun, aku juga tidak mau mengacaukan hobimu. Karenanya, aku biasakan diriku berkicau terlebih dahulu, lalu melemparkan tanda tanya yang begitu kamu menangkapnya, rangkaian kata-kata akan keluar dengan sendirinya dari bibir mungil itu. Iya, aku menemukannya ketika sedang jalan-jalan di tempat yang sebaiknya tidak kamu ketahui. Kurasa, tanda tanya ini akan membantumu sehingga aku ambil dan simpan dalam saku celana. Benar. Tanda tanya ini memang ajaib. Hari demi hari, rangkaian kata yang keluar dari mulutmu semakin banyak. Kamu terlihat lebih bebas dalam mengekspresikan apapun yang hari ini kamu jumpai lewat kata; nenekmu yang setiap hari bertanya siapa namamu, pakdemu yang hobi jalan-jalan, juga ibumu yang beberapa kali memaksa burung-burung peliharaan suaminya untuk mencoba resep baru yang hari itu ia ciptakan.

Wahai kamu,
setelah perdebatan panjang dan melelahkan, waktu akhirnya mengizinkan kita berdua. Aku menemuinya saat kamu lelap dalam tidur, dilenakan oleh nyanyian purnama yang beberapa hari sebelumnya kumohon dengan sungguh untuk bersekongkol hingga pertemuanku dengan waktu terjadi tanpa harus membuatmu cemas. Tidak, aku tidak berkelahi dengan waktu. Aku berbicara padanya baik-baik. Kepadanya, aku minta ia ikhlas membiarkan kita bersatu, lebur dalam cinta yang menjadi kata-kata kegemaran para musikus. Dia setuju! Ah, kamu tidak tahu betapa kali ini tidak ada satu kata pun yang berwenang mewakili kegembiraanku. Kamu ingat senyumnya yang agak dipaksakan dalam pesta pernikahan kita? Iya, itu dia buat dengan susah payah. Aku kesulitan berhenti mengucap terima kasih atas upayanya tersenyum kala itu.

Waktu memang jadi jauh lebih bersahabat sejak itu, meski tetap saja ia jomblo. Kita selalu dengan ramah menyambut kedatangannya. Oh, kamu juga tak pernah lupa menyajikan biskuit kesukaannya, bukan? Lengkap dengan secangkir teh hangat tempat ia mencelup biskuit, sebelum dengan sok imut, memakannya. Waktu juga yang menjadi paman sekaligus teman bermain anak-anak kita. Kita menganggapnya bagian dari keluarga, bekerjasama dengannya dalam setiap perencanaan keuangan.

Namun, sayangku,
waktu bekerja untuk Tuhan. Dia harus patuh pada Tuhannya. Dalam kunjungan terakhirnya, saat kamu sedang sibuk membuat teh dan menyiapkan sepiring biskuit, terjadilah pembicaraan serius itu. Katanya, dia tidak bisa lagi membantuku. Tuhan memintaku kembali dengan mengutus ajal ke dunia. Waktu bilang, ajal akan menemaniku bertemu Tuhan. Sementara itu, waktu akan menemanimu mengasuh anak-anak hingga akhirnya ajal kembali untuk menjemputmu. Saranku, tetaplah berkawan dengan waktu. Ajarkan anak-anak kita hal yang sama demi kebaikan mereka.

Wahai kamu, wanita termanis yang pernah ada,
aku sudah melihat siluet ajal dan waktu dari kejauhan. Karenanya, kucukupkan baris kataku sampai di sini. Mohon maaf tak bisa berpamitan langsung. Kamu tahu aku tidak pernah tahan melihat tetes-tetes air mata itu.

Bersama surat ini, aku selipkan pula sisa peluk dan cium yang kupunya untukmu. Semoga cukup untuk menemanimu membesarkan anak-anak. Bila memang tidak, mintalah pada Tuhan untuk mengirimkan gantinya. Ah, bukankah Tuhan Maha Memberi?


Dari tempat tersepi di dunia,
Lelakimu yang Cerewet

31 July 2016

Link Update Pokemon GO untuk Android-platformed Smartphone

Paling sebel itu kamu pergi ke surga pokestop yang ada lure di mana-mana, tapi pas dibuka, apps Pokémon GO kamu nggak bisa terbuka. Gagal panen deh.

Udah kejadian sama kamu? Ya udah, download update-nya aja dulu di sini.

Gagal download? Yaudah, copy ini deh di browser kamu.

https://m.apkpure.com/pok%C3%A9mon-go/com.nianticlabs.pokemongo/download?from=details

Ayo main lagi! 👊

28 July 2016

Bermain Pokemon GO dan Tetap Produktif, Kenapa Tidak?

 youtube.com


Saya termasuk orang yang relatif suka dengan tulisan Yodhia Antariksa. Bila kamu belum familiar dengan namanya, dia adalah founder sekaligus CEO PT. Manajemen Kinerja Utama.

Baru-baru ini, Yodhia menulis di tentang kegilaan Pokemon GO dan bahaya laten smartphone. Buat saya, tulisan ini oke banget. Ada beberapa pertanyaan yang selama ini cuma terpikir dalam perjalanan pergi dan pulang kantor lalu terjawab di sini, meskipun secara tidak langsung. Saya akan kutip sebagian dari tulisannya di bawah ini.


***

Cal Newport dalam risalah terbarunya yang memukau berjudul Deep Work, menyebut sebuah istilah yang layak dikenang: Shallow Work. Shallow work adalah sejenis aktivitas yang dangkal, kelihatan sibuk, tetapi tidak berdampak signifikan bagi peningkatan skills dan income kita.

Ledakan smartphone sungguh telah membuat banyak konsumen terjungkal dalam shallow work yang dangkal dan tidak produktif –atau tidak punya impact nyata bagi peningkatan self competency. Salah satu contoh shallow work, menurut Cal Newport, adalah berjam-jam sok sibuk menghabiskan waktu untuk bermain game (seperti Pokemon Go, Dota, Class of Clans dan sejenisnya) via smartphone atau laptop. Waktu yang sangat berharga, yang sebenarnya bisa dipakai untuk melakukan deep work dan deep thinking demi peningkatan skills, jadi terbuang percuma lantaran berjam-jam dihabiskan untuk bermain game di smartphone.

Gangguan online tanpa henti dari smartphone seperti itu, menurut Cal Newport, acap membuat kita gagal melakukan “deep work” dan “deep thinking”. Deep work artinya menghasilkan karya yang wow, yang butuh fokus, kedalaman, serta konsentrasi yang tajam. Sayangnya, deep work seperti itu kini makin sering gagal dilakukan karena tersapu oleh gelombang distraksi tanpa henti dari smartphone.

Cal Newport juga menulis hal yang menarik: yang melakukan deep work sejatinya adalah programmer yang menciptakan Pokemon (sang jenius yang menghasilkan karya wow seperti itu). Sementara jutaan konsumennya hanya terjebak dalam shallow work –aktivitas yang dangkal.

Namun ternyata bahaya laten smartphone bukan hanya dalam hal merampas waktu produktif kita untuk melakukan hal-hal dangkal seperti main game, cek status abal-abal, atau browsing infomasi online yang tidak punya kaitan dengan perubahan income kita.

Bahaya laten smartphone lain adalah menjebak sel otak kita untuk terbiasa berpikir melompat-lompat –klik ini, klik itu, tap ini tap itu, scroll, scrol, dan terus berputar seperti itu. Smartphone telah mendidik kita untuk tidak pernah bisa fokus dan selalu “tergoda” untuk terus bergerak mengikuti aliran informasi online atau distraksi notifikasi.

Dalam jangka panjang, proses seperti ini amat kelam dampaknya. Sebuah riset neurologi membuktikan, kini makin banyak anak-anak muda generasi digital yang sulit membangun konsentrasi panjang (misal membaca buku 50 halaman atau menekuni sebuah pekerjaan yang menuntut deep thinking).

Attention span kita menjadi makin pendek dan selalu ingin bergegas (mirip seperti saat kita asyik main smartphone).

Akibatnya bisa fatal: sel otak yang terjebak seperti itu jadi makin sulit diajak untuk menekuni sebuah problem sulit, yang menuntut ketekunan dan konsentrasi tajam. Daya kegigihan dan ketekunan kita untuk melakukan deep work dan deep thinking jadi makin redup dihancurkan oleh layar smartphone.

Cal Newport lanjut menulis bahwa tanpa kecakapan dan ketekunan melakukan deep work, Anda hanya akan jadi pecundang dan tidak pernah bisa menghasilkan karya yang "cetar membahana".

***

Guys, sejujurnya, saya sangat menyenangi Pokemon GO. Kalian tentu tahu bagaimana saya relatif aktif mengulasnya di blog ini.

Namun, saya juga sadar bahwa Pokemon GO tidak abadi. Ada banyak hal penting nan berguna lainnya yang dapat kita lakukan demi membuat dunia jadi tempat yang lebih baik untuk ditempati.

"Jadi, mau stop main Pokemon GO?"

Nggak juga.

Yang ingin saya beritahukan adalah bahwa kita tetap bisa menikmati keasyikan bermain Pokemon GO, namun juga bisa tetap produktif dalam apapun yang sedang kita ikhtiarkan di dunia ini. Syaratnya gampang.

Batasi durasinya.

Saya, misalnya, berpikir untuk bermain Pokemon GO tiga puluh menit setiap hari. Saya bisa berangkat dari rumah lebih awal untuk mampir ke sebuah tempat favorit yang dekat dengan kantor. Setelah itu? Meluncur ke kantor dan bekerja dengan tenang.

Tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu? Padatkan waktu bermainnya. Beraktivitaslah sebagaimana Pokemon GO belum lahir ke dunia ini, lalu mainkan selama 150 menit alias 2,5 jam di akhir pekan. Hints: GI adalah tempat main yang oke, kalau kamu tipe yang males gerak.

"Yah, kalau begitu caranya, nanti level gue bisa ketinggalan jauh dong?"

Dude, you play it for fun. Kalau menjaga level terasa membebani dan membuatmu tidak enjoy dalam memainkannya, then why don't you uninstall it? Mari bersikap realistis. Pokemon GO tidak akan memberikanmu karier...

...kecuali kalau memang itu mendatangkan uang dan kamu serius menekuninya.

Pada akhirnya, hidup adalah pilihan. Semakin dewasa, batas antara pilihan benar dan salah semakin tipis dan relatif. Karenanya, pilih, lalu jalani dengan bertanggung jawab.



Tapi,

kalau bisa pilih main Pokemon GO sekaligus tetap produktif,

kenapa tidak?



25 July 2016

Kreativitas dan Konfrontasi sebagai Proses Kreatif Saini K.M.



theodysseyonline.com


Ketika menghadiri seminar penulisan, biasanya di lingkungan kampus, saya seringkali dilempar pertanyaan seperti ini.

“Bagaimana, sih, cara mendapatkan ide menulis?”

Jujur, ini adalah pertanyaan yang membuat saya gelagepan; bukan karena terlalu banyak jawaban yang berseliweran di benak saya, melainkan justru karena tidak ada sama sekali jawaban yang dapat saya berikan saat itu. Bagaimanapun, karier menulis saya diawali sebagai penulis diary pada sebuah blog yang beruntung. Setidaknya, saya punya dua keberuntungan saat itu; beruntung blog saya dibaca banyak orang, beruntung ada seorang senior di sekolah yang mengirimkan kumpulan tulisan saya di blog ke penerbit lalu tulisan tersebut diterima. Sesederhana itu.

Setelah (pura-pura) berpikir di depan ruang, saya akhirnya memberikan jawaban padanya. Saat itu, saya katakan bahwa kreativitas berupa ide menulis bisa didapatkan dengan berbagai cara. Kita hanya perlu membuka lebar-lebar mata dan telinga kita terhadap situasi sekitar. Dengan cara itu, kreativitas berupa ide menulis didapat.

Saya tidak tahu bila ada jawaban yang lebih baik saat itu. Yang jelas, itu jawaban terbaik yang bisa saya berikan. Jawaban lain? Tentu ada. Seharusnya ada.

Saya kemudian membuka diri terhadap ‘makanan’ bernama kreativitas tersebut. Saya mengikuti kuliah sosiologi ekonomi yang memberikan pemahaman tentang ekonomi kreatif, meskipun itu bukan fokus studi saya ketika kuliah.

Kemudian, datanglah ‘wahyu’ itu. Ketika sedang suntuk, saya membuka-buka halaman buku berjudul “Proses Kreatif” yang disunting oleh Pamusuk Erneste. Dalam buku tersebut, ada bab berjudul Kreativitas Sebagai Konfrontasi. Saini K.M. adalah penulisnya.

Pada tulisan itu, Saini K.M. menuliskan latar belakang keluarga dan lingkungannya alias faktor-faktor pendukung yang melatari pembentukan nilai-nilai seorang individu, dalam hal ini adalah dirinya sebagai seorang sastrawan.


Ada pemikir yang mengatakan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang bermimpi. Artinya, dengan kesadarannya ia dapat menangkap das Sein dan das Sollen, yang nyata dan yang seharusnya. Itu berarti pula bahwa ia menangkap kesenjangan antara dua dunia, dunia kenyataan dan dunia impian, dunia real dan dunia ideal.


Saini K.M. juga mengutip Albert Camus yang mengatakan bahwa seniman tak dapat berlapang dada di dalam menghadapi dan menerima kenyataan. Das Sein bagi Camus adalah kekacauan atau chaos. Kekacauan ini melukai seniman, baik pada taraf etik maupun metafisik. Karenanya, seorang sastrawan mengajukan protes sosial.

Saini K.M. kemudian memberikan contoh protes sosial dalam kumpulan sajak pada bagian kedua buku Nyanyian Tanah Air (Mimbar Demokrasi Press, Bandung, 1968).


L’enfant Terrible

Akan jatuh hari lahirnya
bayi perawan yang diperkosa
menggemakan teriak kering
dalam gubuk di dunia-bawah.
Akan bernyala fajar zamannya
anak yang menghambur dari rahim waktu
dan dari perut segala kota
yang berurat kali-kali hitam.
Akan berseru bibir-bibir perunggu
dan jarum menunjuk angka
bagi dia yang dibesarkan lapar
dingin dan duka.

Akan tiba saat dia bertanya:
“Kalau nasib ditentukan bintang
bukankah kami dinasibkan menentang?”
Anak bungsu abad yang tua renta
akan bicara pada dunia
dengan lidah-lidah api
dengan mulut-mulut besi
dan ibu-bapak yang ketakutan
tahu pedihnya air garam
di kelopak mata cekung.

Bayi orang-orang malang
yang dijual dan diperkuda
sekali akan minta dimandikan
dengan darah dan airmata
akan tulis pada nina bobo
dan kata besar yang hampa
dan bersama segala arwah

yang tak menemukan tempat
selain dalam impian buruk
akan mengacungkan tinju ke angkasa
menantang masa silam dan hari di muka
sementara bumi gempa gemetar
bawah deru derap langkahnya.
                                                1961


Bagi saya, Saini K.M. memberikan pelajaran mengenai konfrontasi sebagai salah satu jalan kreativitas. Kesenjangan yang berada antara das Sein dan das Sollen ini (selain membuahkan kegelisahan) juga dapat menjadi inspirasi bagi penulis dalam menghasilkan sebuah karya.
Entah turut terinspirasi Saini K.M. atau tidak, Raditya Dika sepertinya memiliki gagasan yang relatif serupa. Pada suatu pelatihan menulis, ia pernah menyebutkan bahwa ide menulis bisa diawali dari sebuah kegelisahan.

Saya sendiri turut menikmati gagasan ini. Konfrontasi berupa berita negatif tentang Pokemon GO dengan persepsi positif permainan tersebut sebagai bagian indah dari kepingan masa lalu membuat saya gelisah, lantas menghasilkan beberapa tulisan tentang Pokemon GO di blog pribadi saya.

Gagasan konfrontasi antara das Sein dan das Sollen kemudian meluas, melewati batas dunia tulis-menulis. Stand up comedian pun kerap menggunakan konfrontasi antara das Sein dan das Sollen sebagai materi stand up comedy yang akan ia bawakan, mulai dari bahasan pergaulan anak SMA yang relatif absurd hingga pada bahasan yang lebih berbobot semacam dunia politik.

Pada akhirnya, kreativitas ada di mana-mana. Kreativitas mewujud dalam berbagai hal. Kita adalah orang yang menangkapnya, lalu mengolahnya menjadi berbagai macam karya; puisi dengan bait berisi, materi stand up comedy yang tajam sekaligus menggelitik, atau bahkan mural yang bernilai seni tinggi.

Jadi, konfrontasi apa yang membuatmu ingin menulis hari ini?