28 September 2016

Sudah Tahu 4 Fakta Kepenulisan Haruki Murakami?




Di mata saya dan tentu para penggemarnya, Haruki Murakami adalah penulis Jepang kontemporer kelas dunia. Tulisannya telah diterjemahkan ke lima puluh bahasa dan terjual jutaan kopi di luar negeri asalnya. Karya-karyanya baik fiksi maupun nonfiksi pun telah memenangkan penghargaan, misalnya World Fantasy Award (2006) dan Frank O'Connor International Short Story Award (2006).

Berangkat dari kekaguman terhadap Murakami dan kualitas karyanya yang mendunia, saya merasa perlu menulis fakta-fakta tentang kepenulisan Murakami yang barangkali tidak semua orang tahu. Inilah kelima fakta tersebut.



1. Bukan Penulis “Judgmental”
flavorwire.wordpress.com

Kamu tidak akan menemui kutipan Murakami dalam sampul-sampul buku apapun. Tidak akan pernah. Murakami mengatakan, “Menurut saya, pekerjaan saya adalah mengobservasi orang-orang dan dunia, bukan untuk menghakimi mereka.”

Murakami juga mengatakan, “Saya selalu berharap untuk memosisikan diri saya jauh dari berbagai kesimpulan. Saya ingin membuat segalanya terbuka terhadap semua kemungkinan. Kita butuh kritik di dunia ini, tentu, namun itu bukanlah pekerjaan saya.”

2. Rutinitasnya Padat
 azquotes.com

Ketika sedang dalam ‘mode menulis’ untuk novel, Haruki Murakami bangun jam 4 pagi dan bekerja selama lima hingga enam jam. Pada sore hari, ia berolahraga lari sepanjang 10 km atau berenang sejauh 1500 meter (atau justru melakukan keduanya!). Murakami menutup harinya dengan tidur pukul 9 malam.
“Saya menjaga rutinitas ini setiap hari tanpa perubahan,” katanya, “Pengulangan itu sendiri menjadi hal yang penting; itu adalah bentuk mesmerisme. Saya menjaga fokus saya untuk mencapai kondisi pikiran yang lebih dalam. Tapi untuk menjaga repetisi dalam waktu yang lama—enam bulan hingga setahun—membutuhkan kekuatan fisik dan mental yang cukup. Karenanya, menulis novel ialah seperti latihan bertahan hidup. Kekuatan fisik sama pentingnya dengan sensitivitas artistik.”


3. Buku Pertama yang Dibaca Murakami
amazon.com

Semua penulis pada awalnya merupakan pembaca. Demikian halnya dengan Murakami. Lantas, buku apa yang pertama kali dia baca?

Buku pertama yang Haruki Murakami baca adalah The Name is Archer karya Ross Macdonald. Ketika masih menjadi siswa SMA, ia jatuh cinta dengan novel-novel criminal. Tinggal di Kobe, tempat orang asing dan pelaut datang dan menjual buku bekas mereka ke toko buku loak, Murakami berupaya mengumpulkan uang untuk membeli buku-buku itu sehingga ia dapat belajar dan membaca dalam bahasa Inggris melalui buku yang dibelinya.
 

4. Menulis Gara-gara Baseball
lithub.com

Murakami tidak bisa menjelaskan secara pasti mengenai mengapa ia memutuskan untuk menjadi penulis. Hal itu mengilhaminya suatu hari, ketika ia sedang menonton pertandingan baseball antara Yakult Swallows dan Hiroshima Carp.

Saat itu, salah satu pemain bernama Dave Hilton mendapat giliran memukul bola. Seketika Hilton memukulnya dengan baik, Murakami tiba-tiba menyadari bahwa ia dapat menulis sebuah novel meskipun tidak pernah ingin menjadi penulis sebelumnya.

Murakami pulang dan menulis malam itu aja. Murakami menulis bagian-bagian singkat dari Hear the Wind Sing selama beberapa bulan. Tentu ia melakukannya setelah kembali dari pekerjaannya di bar Jazz yang ia miliki.

Nah, itulah sekelumit fakta dari Haruki Murakami. Setelah membacanya, yang manakah dari fakta-fakta tersebut yang paling kamu sukai?


Zulfian Prasetyo

23 September 2016

Pulang

 radiocora.it


Tidak ada yang lebih romantis daripada Margonda malam itu
Dari lampu sorot mobil-mobil yang berbaris
Dari motor-motor yang menyalip dengan bergegas
Dari deru kendaraan mereka saat lampu merah baru saja berubah hijau

Para pekerja
Pulang saat hari jadi gelap
Lelah
Namun bertabur cinta

Rindu pada keluarga
Pada istri yang dinikahi setelah menabung bertahun-tahun
Pada anak-anak yang masih kecil
Yang membuat cemas ketika sakit
Yang kerap memanggil dengan hati
Untuk segera
Pulang



18 September 2016

Know Who You Are (Bab 1 It's Not About the Coffee)

theodysseyonline.com



One Hat. Ini adalah gagasan utama yang seringkali digaungkan dalam bab 1 buku It’s Not About the Coffee karangan Howard Behar. Ia punya alasan atas hal ini.

Melalui bukunya, Behar menekankan pentingnya mengenali diri sendiri sebagai langkah menemukan jatidiri. Ia bilang,

Wearing one hat is the epitome of personal leadership. It is the starting point—and the end point—of the lifelong process of discovering who you are and what you stand for.

Istilah one hat, satu topi, Behar pinjam dari tulisan Edward de Bono, Six Hat Thinking. Melalui istilah ini, Behar menekankan pentingnya mengenali diri sendiri sebagai langkah awal menuju perjalanan hidup; siapa kita, ke mana kita mau menuju, dan bagaimana cara kita mencapai tujuan itu. Dengan demikian, konsisten terhadap value diri sendiri adalah kata kuncinya.

Our personal hat, our one hat, is a metaphor for being consistent with oneself. What you see is what you get.

Kita sadar bahwa seiring bertambahnya usia, ada banyak pengaruh dari luar diri yang membuat kita tidak menjadi diri sendiri, misalnya hal-hal yang berkaitan dengan uang. Akibatnya, kita sering tidak konsisten dalam setiap keputusan/pernyataan yang kita buat. Kita merasa tidak bergairah dengan kehidupan yang kita jalani karena tidak jujur terhadap diri sendiri.

Selain itu, kita juga kadang menggadaikan ‘value’ yang kita anut, yang diajarkan orangtua sedari kecil, yang kita yakini sebagai kebenaran. Howard Behar pernah melakukan ini. Satu teguran dari rekan kerjanya membuat ia menyesalinya kemudian.

Jujurlah terhadap diri sendiri, terhadap mimpi yang akan dan sedang kamu kejar. Mimpi itu mungkin akan mengalami pergeseran, namun biasanya tidak berubah 180 derajat. Howard Behar sendiri mengira passion-nya dahulu adalah dunia furnitur. Namun, pada titik tertentu, ia menyadari bahwa manusia adalah passion-nya. Karenanya, berpindah dari perusahaan furnitur ke Starbucks tidak menjadi masalah baginya. 
Meskipun demikian, Behar mengingatkan bahwa jujur terhadap diri sendiri bukan berarti tidak menerima masukan dari orang lain. Ketika ada masukan dari orang lain, tanyakan diri sendiri, apakah masukan itu sejalan dengan nilai-nilai kebaikan, dengan tujuan hidup yang sudah kamu setting (termasuk passion yang kamu miliki), atau dengan kebenaran yang kamu yakini. Bila sesuai, masukan itu harusnya akan memperkuat dan menyempurnakan kepribadian kita.

Dalam pilihan karier yang kamu jalani, kejujuran akan diri sendiri juga membuahkan produktivitas yang baik. Behar mengutip tulisan Ken Blanchard dan Spencer Johnson, The One Minute Manager.  

“People who feel good about themselves produce good results.”

Dalam konteks organisasi, termasuk organisasi kerja alias perusahaan, one hat diterjemahkan sebagai visi. Leader punya peran penting terkait hal ini. Kejujuran dan kesetiaan manajemen perusahaan terhadap visi organisasi, pada akhirnya, akan menentukan apakah visi itu benar-benar dijalankan atau sekedar kata-kata mutiara yang menjadi hiasan di dinding kantor.

Pada bagian akhir, Howard Behar bertanya kepadamu.

  1. Apa yang kamu sukai? Apa yang membuatmu ingin melakukannya?
  2. Mimpi apa yang kamu miliki? Mimpi besar. Tuliskan.
  3. Hal-hal apakah yang menghampirimu selama proses mencapai mimpi?
  4. Hal-hal apa saja yang udah nggak mau kamu lakukan lagi?
  5. Ketika berusia 20-30an, kamu mau dikenal sebagai siapa? Bagaimana kamu ingin diingat orang?
  6. Siapakah pribadi yang memiliki pengaruh besar di sekelilingmu? Siapa yang menginspirasimu untuk maju melampaui batas potensimu?
  7. Di mana kamu mengaktualisasikan passion kamu sekarang?
  8. Apakah yang membuatmu bergerak menuju tujuan-tujuan hidupmu (goals) sekarang? Apakah kamu sedang melakukannya? Bila tidak, kenapa? Bisakah kamu melakukannya?
Pada akhir bab, ia mengungkapkan kalimat-kalimat yang saya sukai.

"When you know who you are, you will see a path of possibility literally unfold before you. You will be gently guided to follow it, or you will create your own opportunity. Each life is filled with possibilities, but most of us miss the magical places to dig. Keep your eyes open, and you will find the treasure."

(Sebelumnya: Membuat Ulbab)

11 September 2016

Membuat Ulbab

ippandco.com


Waktu lagi asyik-asyiknya ngeblog, waktu smartphone belum ada dan OS semua ponsel masih embedded system atau paling bagus Symbian, waktu gue masih ganteng (dan sampai sekarang masih ganteng), gue meniatkan diri untuk tidak hanya menjadi penulis yang menghibur tetapi juga insightful.

Artinya, tulisan gue harus bermanfaat sekaligus menghibur meskipun seringkali hasilnya udah kayak dubur.

Gue mencoba menghidupkan itu kembali. Mencoba untuk otentik sama diri sendiri. Mencoba menjadi Zulfian, bukan orang lain. Mencoba memberikan karya dengan mutu yang lebih baik, bukan sekedar populer.

Kita semua tahu bahwa seorang penulis memulai kariernya dari membaca. Seorang penulis adalah pembaca, meskipun setiap pembaca belum tentu adalah seorang penulis. Gue mulai menemukan ulang diri gue dari sini.

Tekad butuh komitmen. Demi melancarkan niatan disiplin membaca, gue akan mengulas setiap buku yang sedang dibaca di sini. Membuat resensi. Ulasan. Namun bukan ulasan keseluruhan buku, melainkan ulasan setiap bab. Gue menyebutnya ulbab. Ulasan bab.

Mulai pekan depan, gue akan membuat satu ulbab setiap pekan. Ulbab gue dimulai dari buku yang dulunya jadi bahan skripsi (dan entah kenapa sampai sekarang nggak kelar-kelar dibaca). Judulnya "It is Not About the Coffee" karya Howard Behar. Bukunya insightful, beneran. Kalian mesti bakal suka deh.

...dan kalau ternyata gue belum bikin juga, jangan sungkan untuk 'teror' gue di facebook, ya. Hahaha.


Salam!

Update:
Gue udah bikin lanjutan post ini. Baca di sini, ya. Makasih, temen-temen. :)

25 August 2016

Kerja Sampai Mati

 lifehack.org



Kerja, kerja, kerja!
Demi gaji yang tidak seberapa
Dipotong cicilan rumah tangga
Dan jaminan hari tua yang belum tentu ada

Kerja, kerja, kerja!
Berangkat ke kantor habis dua jam
Senggol kaca spion di jalan dilanjut saja ke baku hantam
Sampai di rumah sudah larut malam

Kerja, kerja, kerja!
Mengerjakan perintah bos
Halal-haram mari diterobos
Yang penting target lolos

Kerja, kerja, kerja!
Jaga etos jangan sampai bolos
Berpikirlah agar kerja Sabtu-Minggu tetap jos
Siapa tahu nanti dilirik bos

Kerja, kerja, kerja!
Ayo kerja terus sampai mati!