Man United is Comeback!

Dihajar City 2-0 pada babak pertama dan menyelesaikan babak kedua dengan skor 2-3. Kemenangan! Manchester United telah menunjukkan kelasnya sebagai klub dengan mentalitas pemenang meskipun kemungkinan besar City memenangkan liga sudah 99,9%.





Bukan yang Pertama
Comeback bukan lagi hal baru bagi Setan Merah. Pada era Sir Alex Ferguson, tidak terhitung jumlahnya klub terseok-seok di babak pertama lalu perkasa di babak kedua, seakan-akan mereka lupa apa yang terjadi di babak sebelumnya. Comeback ala Manchester United bahkan sering terjadi di menit-menit terakhir, momen legendaris yang kini dikenang sebagai Fergie Time.

Kalau mau mengingat-ingat lagi masa lalu, skor 2-3 melawan City juga bukan yang pertama. Hal ini pernah terjadi pada musim 1993-1994. Kejadiannya mengambil tempat di Maine Road, stadion lama Manchester City yang digunakan dari 1923 hingga 2003.

Kala itu, Nial Quinn mencetak dua gol di babak pertama di kandang City. Manchester United jelas tidak berkutik pada babak pertama. Mereka menuju ruang ganti dengan kepala tertunduk.

Lalu, sesuatu terjadi pada babak kedua. Setelah 52 menit bertempur melawan City, Eric Cantona (dan arogansinya) memberi secercah harapan pada tim tamu. Skor 2-1 ia ciptakan setelah membongkar pertahanan Manchester biru. Cantona semakin bersemangat untuk menghajar tim tuan rumah. Efeknya, MU menyamakan kedudukan 13 menit kemudian. Rekrutan baru Manchester Unied saat itu, Roy Keane, menjadi pemain yang kemudian menghancurkan pertahanan City untuk ketiga kalinya dengan mencetak gol pada menit ke-86. Manchester United melakukan comeback! Mereka pulang dengan membawa kemenangan yang dramatis.

Para pendukung Manchester United tentu tidak bisa melupakan kenangan Liga Champions tahun 1999. Ada dua pertandingan tak terlupakan di situ; melawan Juventus, melawan Bayern Munich.

Cerita manis comeback Manchester United sebenarnya sudah dimulai sejak peluit wasit pada babak semifinal ditiup. Kala itu, Man United bertarung melawan salah satu klub paling dihormati di Eropa. Ya, Juventus. Juventus kala itu adalah Real Madrid sekarang. Diperkuat oleh monster-monster semacam Edgar Davids, Inzaghi, dan Zidane yang sangat trengginas di dalam maupun luar kotak penalti lawan, mereka adalah klub yang disegani. Juventus tercatat tampil dalam 3 (tiga) final Liga Champions sebelumnya, tak heran jika ia termasuk yang digadang-gadang untuk menjadi finalis Liga Champions 1999.

Benar saja. Sepuluh menit pertama menjadi neraka bagi Manchester United. Setan Merah jadi bulan-bulanan Nyonya Tua. Zidane dan Davids bahu-membahu dengan Inzaghi yang sukses menyeploskan bola ke gawang Schmeichel pada menit ke-6 dan ke-10.

United terus mencoba. Pada menit ke-24, gol perdana mereka tercipta melalui sundulan Roy Keane yang menyambut sepakan Beckham dari sudut lapangan. Beckham kembali memberikan umpan brilian pada menit ke-35 pada Yorke yang menyundulnya, menciptakan gol penyama kedudukan hingga babak pertama usai. Manchester United baru unggul pada menit ke-84. Yorke menghajar gawang Juve, ditepis Peruzzi, namun bola rebound berhasil dimanfaatkan Andy Cole yang menyegel kemenangan untuk Setan Merah.



United melaju ke final, meskipun harganya sangat mahal; kehilangan Paul Scholes akibat akumulasi kartu kuning.

Kemudian, tibalah pertandingan legendaris itu. Bayern Munchen mengamuk di final. Para pendukung mereka sudah menjadikan stadion itu sebagai ajang berpesta sebelum pertandingan berakhir. Sebagian dari kita yang mendukung Bayern mungkin sudah kembali tidur nyenyak begitu babak pertama selesai.

Namun, dua gol dari injury time membuat perubahan yang dramatis sekaligus menjadikan pertandingan final Champions itu menjadi salah satu pertandingan paling diingat sepanjang masa.

 Guardian.co.uk


Bisikan Pelatih

Ada banyak faktor yang menentukan comeback sebuah tim sepakbola yang tadinya babak belur di babak pertama. Pertama, takdir. Ini sudah tidak bisa diutak-atik. Kalau dari sananya sudah ditakdirkan menang, ya menang. Kalau Tuhan sudah berkehendak, bisa saja tendangan lawan dibuat melebar ke mana-mana, bahkan menuju langit (tidak, saya tidak sedang menyindir Sergio Ramos. Ups). Bisa juga kehendak Tuhan masuk melalui wasit yang dianggap tidak adil memimpin pertandingan. Tapi faktor ini tidak berlaku bagi para atheis. Jadi, kita kesampingan dulu yang satu ini.

Faktor kedua yang tidak kalah menarik adalah bisikan pelatih. Anda harus tahu betapa ketakutannya para pemain Manchester United saat keluar dari lorong pemain menuju lapangan. Tekanan. Intimidasi. Intensitas pertandingan. Semua berkumpul di dada dan kepala masing-masing pemain berseragam merah itu.

Namun, Fergie punya bisikan terhadap anak-anaknya. Teddy Sheringham mengingat kata-kata Sir Alex kala mengirimnya ke lapangan menggantikan Blomqvist pada menit ke-67, “Go out there and get us that goal!”

pinterest.com

Anda juga harus tahu apa yang Fergie katakan di ruang ganti jelang babak kedua. “This European Cup will be only six feet away from you at the end of this day. But if you lose this match you won't even be able to touch it. Don't you dare come into this dressing room after the match without giving your all.”

Anda bisa bayangkan apa yang terjadi andai anak-anak Fergie gagal meraihnya. Tamatlah riwayat mereka.

Pun demikian halnya dengan Manchester United era Jose Mourinho. Saya sempat berpikir, apa mungkin Fergie kembali masuk ruang ganti United usai babak pertama dan menyemprot semua orang di sana tepat di depan muka mereka?

Nyatanya, tidak juga.

Alih-alih Fergie, justru Mou yang punya andil. Dalam konferensi pers, ia tampak tidak sesombong biasanya. Mou hanya mengatakan bahwa prioritas mereka adalah peringkat kedua. "Motivasi saya adalah untuk finis di posisi kedua. Secara matematis, persaingan di empat besar memang belum selesai, tetapi itu adalah tujuan utama kami saat ini," ucap Mourinho seperti dikutip BolaSport dari BBC.

Ia juga berkata akan berusaha tidak membuat Man City leluasa untuk bermain. “Satu hal yang bisa saya katakan bahwa saya ingin menang dan tak membiarkan mereka leluasa bermain. Kami juga ingin menang jika memungkinkan. Hanya itu yang bisa saya katakan," ujar Mou.

Tidak seperti Mou yang biasanya, bukan?

Namun, Mou adalah Mou; orang sombong yang punya gengsi berbalut mentalitas juara. Ada bisikan yang dia berikan di ruang ganti, dituturkan kembali oleh Smalling seusai pertandingan.

“Mourinho tidak mengatakan banyak hal saat jeda pertandingan karena sebagai pemain kami tahu diri bahwa kami melakukan kinerja buruk pada babak pertama," ucap Smalling.

"Ia hanya mengatakan bahwa dirinya tidak ingin menjadi badut yang berdiri di sana dan menyaksikan Manchester City merayakan gelar," tuturnya.

sportseries.net

Well, ini menjadi jawaban juga perihal kenapa Mou tidak tampil trendy malam ini. Hanya mengenakan polo berwarna hitam di balik jasnya.

Pada akhirnya, comeback adalah masalah mental. Ia adalah cerita manis bagi setiap tim sepakbola, tidak hanya Manchester United. Syaratnya satu, kemampuan mengembalikan mental tertekan menjadi mental juara. Inilah yang membuat tim underdog menjadi juara dan tim juara menjadi underdog. Fergie punya hairdryier treatment, pun Mou dengan caranya sendiri untuk memantik comeback. Setiap pelatih punya caranya masing-masing.

Namun, mentalitas juara juga dihasilkan dari rasa percaya terhadap kemampuan diri sendiri. Rasa percaya itu dihasilkan dari latihan yang tekun dan disiplin serta pengalaman. Ini seperti yang Ole Gunnar Solksjaer katakan, “We believe in ourselves. I believe in myself and my abilities. Of course I didn't think it was over. Coming on then I knew they were tiring and I was more likely to score.”

 
walesonline.co.uk

Comments

Popular Posts