Thursday, January 19, 2012

Panduan Menjadi Cowok Idaman

Menjadi sosok pria yang cool merupakan hal yang kita, cowok-cowok cupu, dambakan. Ya, seakan-akan menjadi cowok yang keren merupakan semacam naluri lelaki, semenyedihkan apapun tampangnya, setipis apapun kantongnya.

Masalahnya, kenyataan yang terjadi nggak selalu sesuai dengan apa yang kita bayangin. Ini gambarannya: Ada cowok namanya Paijo (untuk menyingkat nama dan biar keliatan gaul, kita panggil dia Joe) yang percaya dirinya udah tingkat boyband Korea. Joe biasa berangkat kuliah dengan setelan jaket distro, celana jeans, dan nggak lupa: rambut gaya Mohawk yang termahsyur jaman gue SMP dulu. Gaya ngomongnya dibuat berbobot, saking berbobotnya sampe kita nggak tau apa yang dia omongin. Untuk mobilitas, dia percaya pada sendal jepit model bapak-bapak. Mungkin dia pakai model yang kayak gitu biar dianggap dewasa. Permasalahannya, kombinasi jaket distro sama sendal jepit bapak-bapak cenderung bikin dia keliatan kayak mas-mas warung salah fashion ketimbang pria maskulin.

Joe memberi kita semua, cowok-cowok marjinal bin fakir asmara yang hobinya ngegodain cewek di pertigaan jalan, sebuah pelajaran penting: betapa kita membutuhkan sebuah panduan. Ya, panduan menjadi cowok idaman. Kenyataannya, bukannya ngedapetin perhatian kaum hawa dalam pergaulan, kita malah lebih sering dilepehin kayak jeruk asem. Apa? Curhatan pribadi saya? Hohohooo... bukan, bukan. Sok tau ih.

Zulfian Prasetyo, cowok pede dan gaul berat, justru ingin memberikan panduan kepada kamu, cowok bau ketek, untuk tampil lebih elegant, expressive, enthusiastic, dan ungkapan-ungkapan bahasa Inggris lainnya yang kedengerannya keren. Melalui tulisan ini, Zulfian Prasetyo, yang di buku sebelumnya menyamar sebagai dr.Zulfiano Prasetyo, akan mencoba membantu kamu menemukan jati diri sebagai cowok yang diidam-idamkan.

Apa? Cowok ngidam? Bukan, itu hal yang berbeda. Saya nggak akan bikin kamu ngidam. Lagian, cowok normal nggak bisa hamil, kecuali kalau kamu jadi kecoak jantan. Jadi tenang aja, tulisan ini nggak bakal bikin kamu ngidam, tapi diidam-idamkan. Ini dua hal yang berbeda, bung! Makanya, baca yang beneeer!! MATANYA MANA, MATANYAAA..!! Maaf, saya emosi.

Nah, buat kalian cowok-cowok cupu bin bau asem, mau tahu gimana cara jadi cowok idaman? Ingat aturan-aturan di bawah ini.

1. Jangan Banyak Cingcong

Ini adalah peraturan nomor satu dalam hal menjadi cowok idaman. Jangan banyak bicara. Berdasarkan pantauan saya, banyak banget cowok yang perawakannya macho dan kekar gagal diterima dalam pergaulan gara-gara pas dia ngomong suaranya cempreng. Nggak asik banget, kan? Makanya, jangan banyak cingcong. Jangan ngasih pendapat kalau nggak ditanya, jangan pipis kalau nggak kepengin. Kalau pun mau ngomong, yang singkat-singkat aja.

“Ooh....”

“Iya.”

“Oke!”

“Sip!”

Eit, jangan lupa. Kalau lagi bicara, usahakan kamu ngomong dengan suara yang berat. Apa yang membuat Barrack Obama terlihat cool dan karismatik adalah suaranya yang berat. Selain itu, kamu mungkin pernah lihat iklan permen pelega tenggorokan di televisi. Ada saat ketika si suami mengeluarkan suara berat, istrinya yang lagi sibuk belanja akhirnya teralihkan dan nurut sama suaminya. Ibu-ibu yang lain pun terpukau dengan pria itu. Ini berarti cewek suka sama cowok yang suaranya berat, Sodara-sodara sebangsa setanah air! Makanya, kalau kamu merasa cempreng, segera berlatihlah menggunakan suara yang berat. Caranya, makan yang banyak. Eh, itu mah badannya yang berat. Maaf, maaf. Maksudnya, bikin suara kamu terdengar berat. Suara berat membuat kamu terlihat lebih maskulin dan karismatik.

2. Perhatikan Tampang Kamu

Ketika kamu sukses mengeluarkan suara berat, hal selanjutnya yang harus diperhatikan adalah tampang. Maksud tampang di sini bukan soal tingkat kegantengan atau sejenisnya. Mungkin muka kamu tipe yang kalo orang ngeliat, dia langsung istighfar. Tapi gapapa, anggap aja itu udah ‘dari sononya’. Bukan itu yang mau dibahas di sini.

Yang pertama perlu kamu inget soal tampang adalah jangan pernah mengeluarkan ekspresi unyu atau menye-menye (ini bahasa apa sih) kepada orang lain. Ini akan membuat kamu terlihat abstrak di depan mereka. Coba bayangin ini: suara ngebas, muka unyu. Pria macam apa itu! Pecahkan saja gelasnya biar ramai! Maaf, itu dialog film AADC.

Selain ekspresi, kamu juga perlu memperhatikan penampilan muka sendiri sebelum ketemu orang. Apakah sudah cukup rapi, tough, dan meyakinkan atau masih ada iler, upil yang ‘ngintip’ dari lobang idung, atau kumis kamu yang baru dicukur setengah?

Selain itu, perhatikan juga permukaan muka kamu. Jangan pernah percaya ungkapan ‘wajah berjerawat bagai bulan purnama yang indah dipandang’. Nggak ada orang yang segitu anehnya menganggap jerawat kamu sebagai bagian dari bulan purnama. Selain itu, nggak oke juga kalau kamu cukur kumis sebelah karena berpikir itu adalah hal yang keren abis.

Singkatnya, kebersihan dan ekspresi yang kamu keluarkan dari wajah melambangkan jiwa kamu yang sebenarnya. Mantap.

3. Dilarang Bau Ketek

Ini adalah poin yang super-wajib-kudu-musti ditaatin. Mau gantengnya kayak apa, tapi kalau keteknya bau mayat, kaum hawa pun kabur dengan ikhlas. Makanya, buat kamu cowok-cowok bau ketek, ciumlah ketekmu sendiri sebelum berhadapan dengan orang lain. Reaksi tubuhmu mencerminkan seberapa parah keadaan ketekmu.

Kalau kamu merasa pusing, itu tandanya ketek kamu agak bermasalah....

Merasa batuk-batuk, berarti ketek kamu beneran bau....

Kalau kamu merasa fly, berarti ketek kamu butuh penanganan gawat darurat segera. Ingat, ketek kamu bukan narkoba! Selamatkan segera sebelum mengganggu sistem saraf otak dan menurunkan kecerdasan.

4. Berjalanlah dengan Petantang-petenteng

Tahu kan, jenis jalan yang ngeper kanan-kiri. Menurut penelitian, entah penelitian siapa, berjalan dengan petantang-petenteng diyakini membuat seorang pria menjadi lebih macho dengan peningkatan sebanyak 39% (iya, angkanya ngasal). Model jalan yang satu ini juga membuat orang lain nggak berani macem-macem sama kamu. Maka dari itu, berjalanlah dengan petantang-petenteng.

Harap diperhatikan, dalam mempraktikkan poin nomor 4 ini, kamu harus memiliki badan yang berisi. Kalo badan kamu seperti tulang belulang, apalagi ditambah dengan tipe kepala yang botak, kamu akan lebih terlihat seperti tuyul gagal imunisasi daripada cowok macho. Tinggal pakai popok dan jalan-jalan malem hari, orang-orang bakal kabur semua. Jadi, makan dulu yang banyak sebelum kamu mempraktikkan model jalan petantang-petenteng.

Badan gede, jalan pede.

5. Jangan show-off

Sudah menjadi rahasia umum, kaum hawa itu gampang terpukau dengan sesuatu. Kaum hawa yang pintar akan terpukau dengan prestasi, kaum hawa yang matre akan terpukau dengan harta, kaum hawa yang narsis akan terpukau dengan dirinya sendiri (lho?). Meski begitu, disarankan untuk tidak show off (pamer) dengan mereka, seperti:

“Bukannya mau sombong nih, tapi aku sih rasanya belum sreg menjalani hari-hari kalau belum salat tahajjud dan salat dhuha....”

“Aku ngerasa nggak enak, nih, soalnya hari ini baru sedekah 50 ribu, menyantuni 50 kaum dhuafa, ngajak 50 orang anak yatim makan di restoran, sama mengaji 50 lembar....”

Buat kamu yang menyukai lawan jenis yang pintar, kemungkinan kamu bakal terpikir untuk show-off kayak begini:

“Duh, ujian tadi kok soal-soalnya terlalu gampang, yah? Jadi males deh.”

atau, “Integral itu sebenernya gampang, kok! Aku belajar sebentar aja udah bisa...”

...meskipun ‘bisa’ yang dimaksud di sini adalah ‘bisa muntah’, ‘bisa gila’, dan sebagainya. Ingat, yang penting jangan show off.

“Sorry, aku lebih suka berlatih rumus-rumus trigonometri dibanding jalan-jalan nggak jelas di mall.” Ya, kamu juga bisa pakai kata-kata semacam ini, terutama kalau kamu nggak punya cukup uang buat ke mall.

Sebaiknya hal-hal semacam ini jangan dilakukan. Mengapa eh mengapa? Karena dengan menerapkan sikap show off, selalu ada kemungkinan cewek-cewek cepat terpikat kamu. Terpikat buat nabok.

6. Jangan Joget Kalau Tidak Diminta

Kamu mungkin ingin terlihat keren kayak cowok India yang ngeliat cewek dikit, langsung joget. Tapi percayalah, di Indonesia, joget-joget bukan hal pertama yang tepat untuk memberi kesan baik pada mereka. Buktinya, nggak ada tuh, ‘jatuh cinta pada jogetan pertama’. Apalagi kalau jogetnya di acara pemakaman keluarga. Selain nggak pas, belum ada sejarahnya orang joget di pemakaman....

Maka dari itu, jogetlah kalau kamu emang diminta, seperti kalau ada acara dangdutan. Kalau nggak diminta, apalagi belum kenal, jangan gegabah! Joget kamu, meski sampai merem-melek segala, hanya akan membuat orang lain nggak napsu makan.

7. Kasih Hadiah

Sudah menjadi rahasia umum, cewek doyan hadiah. Tapi masih menjadi rahasia Ilahi, kado apa yang paling diinginkan oleh mereka. Meski begitu, gue meyakini bahwa sebenernya, cewek itu paling suka PASTA GIGI.

Ya, mungkin kamu terheran-heran dengan pernyataan barusan. Gue juga terheran-heran, terutama setelah melihat proses PDKT cowok ke cewek dalam suatu iklan pasta gigi di layar televisi. Tapi percayalah, kalau kamu kasih odol alias pasta gigi, cewek bakal seneng. Terutama cewek yang giginya kuning. Kenapa begitu? Karena warna kuning melambangkan hati-hati. Itu tandanya, cewek bergigi kuning orangnya hati-hati dan sering ragu. Dengan memberi pasta gigi, tandanya kamu kasih dia kepastian. Kenapa? Karena pasta gigi pada hakikatnya setara dengan cincin pernikahan, cuma lebih murah. So pasti bakal cocok banget buat kamu.

Sekian panduan menjadi cewek idaman. Semoga kalian, cowok-cowok yang kurang beruntung, bisa mengalami sedikit perbaikan dalam jodoh, karier, dan lain-lain.

Salam Mesra Selalu.

Sahabatmu yang gaul,

Xulfian Vrasetyo

Thursday, December 22, 2011

Contoh Tulisan Feature

Beberapa minggu lalu, gue dapet tugas kuliah bikin tulisan feature. Sederhananya, penulisan feature itu seperti nulis fiksi dengan disertai fakta-fakta. Contoh paling gampang yang bisa lu pahami adalah ketika lu baca tulisan tentang seseorang seseorang di suatu koran atau majalah. Masih bingung juga? Gue juga bingung gimana cara jelasinnya.

Biarpun awalnya gue nggak tau, tugas semacam itu seharusnya nggak begitu jadi masalah seumpama gue rajin. Kenyataannya, kemalesan yang udah tingkat drama Korea ini memaksa gue untuk ngerjain tugas di jam-jam terakhir. Hari ini dikumpulin, tengah malemnya gue baru bikin.

Dalam menulis feature, gue butuh seseorang buat diwawancarai. Daaann...orang yang ketiban sial beruntung dalam gue wawancarai itu bernama Ibnu Maroghi. Percakapan di bawah ini terjadi dengan menggunakan YM.

Gue: Gie

Gue: bantuin gue gie

Ibnu Maroghi: ya?

Gue: bantuin gue dong

Gue: lu jdi narsum gue yak

Gue: buat feature nih

Ibnu Maroghi: untuk apa?

Gue: penrock

Ibnu Maroghi: penulisan rock?

Gue: -___-"

Ibnu Maroghi: atau PENcaksiROCK?

Gue: iya apakataludahgie

Ibnu Maroghi: bentar, ya. Lu ngetik ya ngetik aja, Zul. Gua bentar beli nasi dulu. Gpp.

Gue: oke sip

Ibnu Maroghi: yep. btw, ini musti rampung kpn ni? *sambil makan nasgor*

Gue: malam ini.

Ibnu Maroghi: setdah, buru2 amat yak. oke,

Gue: lu kan udah expert, kagak usah lama-lama gie.


Tanpa banyak ba-bi-bu, dimulailah proses wawancara itu, antara Oghie (yang enak banget makan nasgor tengah malem) dan gue (yang bikin pertanyaan sambil nahan laper dan iler). Hasilnya bisa dilihat di bawah ini.

***


Ibnu Maroghi: Belajar itu Tuntutan Hidup!

Oleh Zulfian Prasetyo

Keringat yang menetes tak menghalangi terkembangnya sebuah senyum di bibirnya saat kami bertemu. Raut wajahnya sedikit lelah, namun ia toh tak menggubrisnya. Dari serambi Musala FIB UI, Ibnu Maroghi bercerita tentang idealismenya dalam menuntut ilmu.

Lelaki berumur 21 tahun ini sekarang tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Indonesia di Universitas Indonesia. Namun, pada transisi tahun 2009-2010, ia tak lebih dari seorang karyawan lulusan STM N Pembangunan (sekarang SMK Negeri 26) yang bimbang tentang masa depannya. Pada saat itu, gaji bulanan telah ia dapatkan sebagai seorang drafter di sebuah perusahaan konsultan bangunan di kawasan Pasar Minggu.

Mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tentu merupakan sebuah dilema karena kuliah akan membuatnya mengorbankan pekerjaannya. Hal itu belum termasuk biaya kuliah yang harus ia tanggung. Mengandalkan orang tua jelas tak mungkin. Profesi ayahnya sebagai guru mengaji di sebuah musala dekat rumah hanya cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari sekaligus sekolah adiknya. Sebagai sulung, ‘anak STM’ ini diharapkan mampu membantu keluarga secara finansial, setidaknya dengan cara mencukupi kebutuhan pribadinya sendiri. Namun, sekali lagi, ia ingin kuliah.

Mengapa ia begitu ingin kuliah? Bukankah orang tuanya menyekolahkan di STM agar cepat bekerja?

“Mengikuti kata hati. Saat itu bukan lagi pertimbangan-pertimbangan ribet nan memusingkan, tetapi sudah dalam tataran jiwa. Saat itu pun sudah kerja, tetapi memang ‘keinginan’ ada di kuliah. Jadi, itulah pilihannya,” jawab pria yang akrab dipanggil Oghi ini.

Awal Januari 2010 merupakan momen penting baginya. Saat itu, Oghi menetapkan hati untuk serius menggapai cita-cita mengenyam bangku kuliah. Berbekal gajinya sebagai seorang perancang ruang bangunan, pria yang berdomisili di Kandangsampi, Klender, ini nekat masuk bimbingan belajar (bimbel) untuk memahami pelajaran IPS SMA. Waktu luang sekecil apapun dimanfaatkannya untuk belajar, baik di kantor maupun di dalam Metromini. Targetnya jelas: lulus SIMAK UI 2010.

Tiga bulan menyulap diri menjadi anak SMA sambil menjalani pekerjaan sebagai drafter terlihat seperti sebuah kegilaan tersendiri bagi Oghi. Sempat ia berpikir bahwa ini merupakan suatu pertaruhan yang tak berguna. Realitas yang hadir dalam wacana ‘bagaimana bayar biayanya?’ hadir untuk menghalangi idealisme yang mulai berkembang.

“Sebetulnya harapan saya sudah punah saat itu. Dan itu berhubungan dengan materi (biaya). Namun, kali ini mentor saya berkata dengan lantang, ‘Duit nanti aja dipikirin. Sekarang fokus belajar!! Emang, lu udah yakin bisa lolos?’ Ucapannya bikin saya semangat lagi,” kenangnya.

Untuk membentengi diri dari pesimisme yang mulai melanda, ia mencari dukungan sana-sini. Buku The Secret karangan Rhonda Byrne, cerita seorang mahasiswa luar kota yang berhasil masuk UI dengan biaya pas-pasan, serta nasihat dari seorang teman nyatanya berhasil mendongkrak motivasinya hingga ia ‘kembali ke jalan yang benar’. Oghi kembali memaknai kekuatan sebuah mimpi yang belakangan dianggap klise bagi sebagian orang. Ia dengan bersemangat menggapai mimpi itu agar menjadi suatu kenyataan yang bisa diraih.

Waktunya tiba. Maret 2010, ia menjalani Seleksi Masuk Universitas Indonesia (SIMAK UI). Di lokasi ujian, ia sempat bertemu teman lama satu sekolah yang ternyata memiliki ‘kegalauan’ yang sama untuk banting setir dari dunia teknik. Bersama-sama, mereka berdoa agar dapat bertemu lagi sebagai mahasiswa di kampus yang sama.

Segala puji bagi-Nya. Beberapa bulan setelah ujian, Oghi dinyatakan masuk UI. “Waktu itu, saya langsung lari keliling terminal Rawamangun sambil teriak-teriak saking senengnya.” Sambil tetap berdoa, pria Betawi ini bersiap untuk menyempurnakan ikhtiarnya. Ia mengundurkan diri dari pekerjaannya, meminta keringanan biaya dari pihak kampus, serta memikirkan pekerjaan sambilan agar dapat membiayai kuliahnya. Selain itu, program beasiswa dari pemerintah pun dibidiknya.

Tuhan tak ragu mencurahkan rizki padanya. Saat ia melayangkan permintaan pengunduran diri, atasan justru membolehkannya tetap bekerja sambil menyesuaikan dengan jadwal kuliah. Oghi tak kehilangan penghasilan bulanannya. Rencananya ‘direvisi’ oleh Sang Mahapencipta.

Rejeki lain datang. Biaya kuliah yang tadinya 5 juta rupiah sebagai uang pangkal dan lima juta rupiah lagi sebagai biaya kuliah per semester ‘terpangkas’ menjadi 300 ribu rupiah (uang pangkal) dan 2 juta (biaya kuliah per semester). “Ini karena saya menunjukkan kemiskinan saya, hahahaha….” Oghi tergelak.

Kedua rizki di atas akhirnya sempurna oleh rizki ketiga. Oghi mendapatkan Beasiswa Bidik-Misi dari Kemendiknas sebesar Rp5 juta. “Dua juta saya alokasikan untuk biaya kuliah, sisanya untuk biaya hidup.”

Apa rahasia dibalik pencapaiannya selama ini?

“Rahasianya nggak ada...kecuali yakin sama kekuatan dahsyat kita sendiri dan percaya bahwa hasilnya nanti adalah yang terbaik buat kita. Nothing to lose, istilahnya.”

Sebagai penutup perbincangan kami siang itu, dengan tatapan matanya yang cerah dan senyumnya yang khas, Oghi berpesan untuk anak sekolah yang mengalami keterbatasan biaya namun tetap ingin melanjutkan pendidikannya.

“Ketika masih dalam usia anak dan remaja, jangan pernah berpikir bahwa bekerja lebih baik ketimbang belajar (sekolah). Belajar itu wajib, musti, kudu. Belajar itu tuntutan hidup. Belajar itu sampai akhir hayat. Berusahalah terus untuk bersekolah.”

Terima kasih, Oghi! Kau dan perjuanganmu telah menginspirasi kami....

***

Nah, begitulah contoh tulisan feature a la gue. Semoga bermanfaat...terutama setelah gue lama banget nggak ngeblog karena badai kesibukan kuliah yang menerpa jiwa dan raga ini.

Salam!

Thursday, August 4, 2011

Lidahnya Nggak Pas

Gue : (ngebuka bungkus makanan)

Nyokap : Apaan tuh, Mas?

Gue : Tau nih, apaan. Kok lengket gini, ya? Bungkusnya bagus, sih.

Nyokap : Mochi, kali.

Gue : Masak, sih? Kok begini rasanya?

Nyokap : Ah, elu mah lidah Jawa. Susah deh makan makanan Cina....

Gue : *langsung nggak napsu makan

Tuesday, August 2, 2011

Membenci Mencintai

Aku melupakan sesuatu dengan mencintainya

Saat benci matahari, aku melupakannya dengan mencintai hangatnya.


Aku melupakan sesuatu dengan mencintainya

Saat benci pelajaran bahasa Inggris, aku melupakannya dengan mencintai keramahan instrukturnya.


Sekarang, alhamdulillah aku bisa bahasa Inggris.

Jago, malah.

Bukan sombong, hanya pamer.


Aku melupakan sesuatu dengan mencintainya

Aku benci cara bapakku mendidik, aku melupakannya dengan mencintai sifatnya yang pekerja keras.


Aku melupakan sesuatu dengan mencintainya

Saat aku benci segala negativitas pada dirimu

Egoisme

Gengsi

Sifat keras kepalamu yang kekanak-kanakan,

Aku melupakannya dengan mencintai caramu membetulkan kerah jaketku

Menatanya dengan lembut dan perlahan, agar leherku tetap hangat


Aku tahu, bukan itu yang membuatku tetap hangat

Tapi perasaanmu padakulah pelakunya

Tak peduli, meski kau bukan pacarku.


Aku melupakan sesuatu dengan mencintainya

Walau sampai sekarang, aku masih bingung


Kapan kau mau belajar untuk memahami?


Thursday, July 28, 2011

Progres Buku Ketiga


So glad to tell you this. Saat ini, naskah udah selesai gue tulis. Tinggal dirapiin dalam beberapa bagian dan ditentukan urutan ceritanya. Semoga awal bulan puasa nanti, ini naskah bisa gue kasih ke penerbit deh ya. Mengenai judul buku, gue belum bisa kasih tau sekarang. Takutnya nanti berubah lagi begitu gue serahin ke LPPH.

Oke deh, mungkin segitu dulu yang bisa gue kasih tau. Eros udah ngajakin nonton bareng, nih. See you, soon! :-)