Internet of Everything: Catatan Pemikiran dari Steve Case


Semuanya berasal dari pemikiran Steve Case, orang di balik kesuksesan AOL (America Online). Dalam bukunya, The Third Wave: An Entrepreneurs Vision of Future, Steve Case menjelaskan perihal tiga gelombang; pertama, kedua, dan ketiga.

Pada gelombang pertama, internet masih dalam tahap dikenal oleh masyarakat. Gagasan besarnya adalah "terkoneksi di dunia maya", meskipun dukungannya hanyalah modem yang kecepatannya bikin istighfar berkali-kali (saya ingat ketika berkali-kali mengelus dada akibat modem Telkomnet Instan itu tidak berjalan secepat yang saya inginkan dan akhirnya memutuskan untuk bangun pukul 3 pagi setiap hari demi mendapatkan kecepatan yang...yah, agak mendingan). Pada fase ini, Steve Case melalui layanannya berusaha memperkenalkan warga Amerika Serikat sekaligus menepis skeptisisme mereka tentang dunia maya melalui AOL, layanan yang (kalau boleh disederhanakan) merupakan gabungan dari Google, Facebook, Amazon, Spotify, dan Instagram. Steve Jobs? Sepertinya sedang asyik memasarkan Apple II.

Pada gelombang kedua, penggunaan internet meledak. Kegemilangan masa ini juga ditunjang oleh perkembangan teknologi komunikasi yang tersemat dalam ponsel-ponsel pintar. Indikasinya, jelas berbagai aplikasi yang bertaburan, istilah baru yang menggantikan dominasi lema software alias perangkat lunak dalam pikiran banyak orang.

Yang menarik adalah pemikirannya tentang gelombang ketiga. Case menyatakan bahwa kehadiran gelombang ketiga bukan ditandai oleh eksistensi internet of things (IoT), melainkan oleh keberadaan internet of everything. Apa bedanya? Ini yang saya pahami: IoT menempatkan obyek berupa benda di internet, sementara IoE menempatkan segalanya di internet. Jadi definisinya beyond benda, melainkan segala hal yang menjadi keseharian kita (people, things, and data).

Tantangan gelombang ketiga adalah proses meng-"internet"-kan ketiganya sehingga benar-benar terhubung. Saya menduga prosesnya adalah menggunakan big data untuk menghubungkan orang dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Jika visinya adalah menghubungkan dunia maya dengan dunia nyata, berarti segalanya akan lebih personal, lebih mudah diakses, dan lebih berdasarkan data.

Agak surealis? Mungkin bagi sebagian besar orang, terutama mereka yang ada di negara-negara berkembang. Tantangannya mirip dengan tantangan di gelombang pertama, sebagaimana yang Steve Case katakan di bukunya.

Itu saja dulu. Mudah-mudahan berkenan.



Comments

Post a Comment

Popular Posts