Hubungan Inovasi dan Geografis: Ketika Permintaan terhadap Inovasi Menjadi Begitu Pemilih



Suatu hari, saya pergi ke Surabaya untuk menghadiri suatu event startup. Pagi berangkat, malam pulang. Sesampainya di Surabaya, saya berkenalan dengan banyak orang yang begitu bergairah dengan usaha rintisannya. Ada juga orang-orang yang, meskipun tidak/belum mendirikan usaha rintisan (startup), memiliki antusiasme yang sama. Energi yang luar biasa, pikir saya.

Setelah mengobrol dan membantu seorang teman mendirikan komunitas di sana, saya iseng untuk menanyakan hal-hal yang sifatnya mungkin sosiologis di Surabaya; lingkungan startup. Bukan apa-apa, Surabaya adalah salah satu kota bisnis terkemuka di Indonesia. Usaha apapun yang dibuat di Surabaya tentu akan disambut dengan hangat asal digarap dengan benar.

Saya dulu sempat berpikir, Jakarta seharusnya berfungsi sebagaimana Canberra atau Washington DC; fokus saja pada pemerintahan. Serahkan urusan ekonomi pada Surabaya, sebagaimana Australia melakukannya pada Sydney dan Amerika pada New York.

Dan terkejutlah saya begitu mengetahui kenyataan yang sebenarnya.

Salah seorang pegiat startup yang juga membuat ekosistemnya di Surabaya mengeluhkan perihal sulitnya Surabaya "bersaing" dengan Jakarta dalam hal perputaran uang. FYI, usahanya adalah membuat software manajemen demi meningkatkan efektivitas perusahaan dalam melakukan kegiatan-kegiatan operasionalnya.

Sebagai kota bisnis, Surabaya seharusnya tidak kehilangan permintaan akan perangkat lunak semacam itu. Demand-nya akan selalu ada. Artinya, membuat usaha rintisan yang membantu menyelesaikan masalah birokrasi kantor adalah tindakan yang tepat. Saya yakin, dia setuju akan hal ini.

Sayangnya, realita tidak berjalan semulus itu. Jakarta masih saja dibawa-bawa dalam urusan yang sebenarnya sudah Surabaya miliki solusinya.
  1. Surabaya punya ekosistem yang mendukung inovasi. 
  2. Surabaya punya orang-orang yang menciptakan inovasi. 
  3. Tapi permintaannya tetap saja "lari" ke Jakarta.
Berdasarkan penuturan orang itu, hal ini kemungkinan terjadi karena pengultusan mereka (dan mungkin orang-orang dari daerah lainnya) terhadap Jakarta. Saya sering dengar ucapan seorang teman yang dulu kuliah di Bandung. Kalau kita ditanyakan daerah asal dan mengucapkan kata "Jakarta", orang-orang di Bandung akan memberikan ekspresi yang entah takzim, entah takjub, seakan-akan kami di Jakarta adalah titisan para dewa.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta, saya tidak bangga.

Surabaya adalah kota besar. Bandung pun demikian. Ketiganya punya lembar-lembar sejarah yang luar biasa sepanjang hayat republik ini. Kenapa harus merasa tidak sederajat?

Kalau ekosistemnya tidak ada, saya paham. Kalau SDM-nya tidak ada, saya juga paham. Kalau market-nya tidak ada, saya lebih paham lagi. Tapi, ini beda. Semuanya ada. Ngapain lari ke Jakarta?

Usut punya usut, ternyata Amerika Serikat juga punya masalah yang sama. Jika berbicara soal startup, semua kepala menoleh pada Silicon Valley. Padahal, ada banyak kota lainnya yang juga memiliki usaha rintisan, seringkali di bidang teknologi (tech startup).

Selain itu, saya ingin mengingatkan bahwa Silicon Valley hanyalah sebuah kebun apel hingga pada 1950-an William Shockley mendirikan perusahaan semikonduktornya di sana.

Ketika kuliah di Universitas Indonesia dulu, saya seringkali mendengar anjuran bahwa para mahasiswa UI yang berasal dari daerah di luar Jakarta sebaiknya kembali untuk membangun kampung halaman mereka. Ini perlu dilakukan agar roda ekonomi kampung kelahiran tetap bergerak, bahkan semakin kencang, agar uang tidak hanya mengalir di kota-kota besar, dan dalam skala yang lebih besar, agar kesejahteraan masyarakat bisa terwujud secara merata. 

Lalu, bagaimana cara mengatasi masalah ini?

Kita lanjut di tulisan saya selanjutnya. :)

Comments

Popular Posts