Thursday, December 22, 2011

Contoh Tulisan Feature

Beberapa minggu lalu, gue dapet tugas kuliah bikin tulisan feature. Sederhananya, penulisan feature itu seperti nulis fiksi dengan disertai fakta-fakta. Contoh paling gampang yang bisa lu pahami adalah ketika lu baca tulisan tentang seseorang seseorang di suatu koran atau majalah. Masih bingung juga? Gue juga bingung gimana cara jelasinnya.

Biarpun awalnya gue nggak tau, tugas semacam itu seharusnya nggak begitu jadi masalah seumpama gue rajin. Kenyataannya, kemalesan yang udah tingkat drama Korea ini memaksa gue untuk ngerjain tugas di jam-jam terakhir. Hari ini dikumpulin, tengah malemnya gue baru bikin.

Dalam menulis feature, gue butuh seseorang buat diwawancarai. Daaann...orang yang ketiban sial beruntung dalam gue wawancarai itu bernama Ibnu Maroghi. Percakapan di bawah ini terjadi dengan menggunakan YM.

Gue: Gie

Gue: bantuin gue gie

Ibnu Maroghi: ya?

Gue: bantuin gue dong

Gue: lu jdi narsum gue yak

Gue: buat feature nih

Ibnu Maroghi: untuk apa?

Gue: penrock

Ibnu Maroghi: penulisan rock?

Gue: -___-"

Ibnu Maroghi: atau PENcaksiROCK?

Gue: iya apakataludahgie

Ibnu Maroghi: bentar, ya. Lu ngetik ya ngetik aja, Zul. Gua bentar beli nasi dulu. Gpp.

Gue: oke sip

Ibnu Maroghi: yep. btw, ini musti rampung kpn ni? *sambil makan nasgor*

Gue: malam ini.

Ibnu Maroghi: setdah, buru2 amat yak. oke,

Gue: lu kan udah expert, kagak usah lama-lama gie.


Tanpa banyak ba-bi-bu, dimulailah proses wawancara itu, antara Oghie (yang enak banget makan nasgor tengah malem) dan gue (yang bikin pertanyaan sambil nahan laper dan iler). Hasilnya bisa dilihat di bawah ini.

***


Ibnu Maroghi: Belajar itu Tuntutan Hidup!

Oleh Zulfian Prasetyo

Keringat yang menetes tak menghalangi terkembangnya sebuah senyum di bibirnya saat kami bertemu. Raut wajahnya sedikit lelah, namun ia toh tak menggubrisnya. Dari serambi Musala FIB UI, Ibnu Maroghi bercerita tentang idealismenya dalam menuntut ilmu.

Lelaki berumur 21 tahun ini sekarang tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Indonesia di Universitas Indonesia. Namun, pada transisi tahun 2009-2010, ia tak lebih dari seorang karyawan lulusan STM N Pembangunan (sekarang SMK Negeri 26) yang bimbang tentang masa depannya. Pada saat itu, gaji bulanan telah ia dapatkan sebagai seorang drafter di sebuah perusahaan konsultan bangunan di kawasan Pasar Minggu.

Mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tentu merupakan sebuah dilema karena kuliah akan membuatnya mengorbankan pekerjaannya. Hal itu belum termasuk biaya kuliah yang harus ia tanggung. Mengandalkan orang tua jelas tak mungkin. Profesi ayahnya sebagai guru mengaji di sebuah musala dekat rumah hanya cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari sekaligus sekolah adiknya. Sebagai sulung, ‘anak STM’ ini diharapkan mampu membantu keluarga secara finansial, setidaknya dengan cara mencukupi kebutuhan pribadinya sendiri. Namun, sekali lagi, ia ingin kuliah.

Mengapa ia begitu ingin kuliah? Bukankah orang tuanya menyekolahkan di STM agar cepat bekerja?

“Mengikuti kata hati. Saat itu bukan lagi pertimbangan-pertimbangan ribet nan memusingkan, tetapi sudah dalam tataran jiwa. Saat itu pun sudah kerja, tetapi memang ‘keinginan’ ada di kuliah. Jadi, itulah pilihannya,” jawab pria yang akrab dipanggil Oghi ini.

Awal Januari 2010 merupakan momen penting baginya. Saat itu, Oghi menetapkan hati untuk serius menggapai cita-cita mengenyam bangku kuliah. Berbekal gajinya sebagai seorang perancang ruang bangunan, pria yang berdomisili di Kandangsampi, Klender, ini nekat masuk bimbingan belajar (bimbel) untuk memahami pelajaran IPS SMA. Waktu luang sekecil apapun dimanfaatkannya untuk belajar, baik di kantor maupun di dalam Metromini. Targetnya jelas: lulus SIMAK UI 2010.

Tiga bulan menyulap diri menjadi anak SMA sambil menjalani pekerjaan sebagai drafter terlihat seperti sebuah kegilaan tersendiri bagi Oghi. Sempat ia berpikir bahwa ini merupakan suatu pertaruhan yang tak berguna. Realitas yang hadir dalam wacana ‘bagaimana bayar biayanya?’ hadir untuk menghalangi idealisme yang mulai berkembang.

“Sebetulnya harapan saya sudah punah saat itu. Dan itu berhubungan dengan materi (biaya). Namun, kali ini mentor saya berkata dengan lantang, ‘Duit nanti aja dipikirin. Sekarang fokus belajar!! Emang, lu udah yakin bisa lolos?’ Ucapannya bikin saya semangat lagi,” kenangnya.

Untuk membentengi diri dari pesimisme yang mulai melanda, ia mencari dukungan sana-sini. Buku The Secret karangan Rhonda Byrne, cerita seorang mahasiswa luar kota yang berhasil masuk UI dengan biaya pas-pasan, serta nasihat dari seorang teman nyatanya berhasil mendongkrak motivasinya hingga ia ‘kembali ke jalan yang benar’. Oghi kembali memaknai kekuatan sebuah mimpi yang belakangan dianggap klise bagi sebagian orang. Ia dengan bersemangat menggapai mimpi itu agar menjadi suatu kenyataan yang bisa diraih.

Waktunya tiba. Maret 2010, ia menjalani Seleksi Masuk Universitas Indonesia (SIMAK UI). Di lokasi ujian, ia sempat bertemu teman lama satu sekolah yang ternyata memiliki ‘kegalauan’ yang sama untuk banting setir dari dunia teknik. Bersama-sama, mereka berdoa agar dapat bertemu lagi sebagai mahasiswa di kampus yang sama.

Segala puji bagi-Nya. Beberapa bulan setelah ujian, Oghi dinyatakan masuk UI. “Waktu itu, saya langsung lari keliling terminal Rawamangun sambil teriak-teriak saking senengnya.” Sambil tetap berdoa, pria Betawi ini bersiap untuk menyempurnakan ikhtiarnya. Ia mengundurkan diri dari pekerjaannya, meminta keringanan biaya dari pihak kampus, serta memikirkan pekerjaan sambilan agar dapat membiayai kuliahnya. Selain itu, program beasiswa dari pemerintah pun dibidiknya.

Tuhan tak ragu mencurahkan rizki padanya. Saat ia melayangkan permintaan pengunduran diri, atasan justru membolehkannya tetap bekerja sambil menyesuaikan dengan jadwal kuliah. Oghi tak kehilangan penghasilan bulanannya. Rencananya ‘direvisi’ oleh Sang Mahapencipta.

Rejeki lain datang. Biaya kuliah yang tadinya 5 juta rupiah sebagai uang pangkal dan lima juta rupiah lagi sebagai biaya kuliah per semester ‘terpangkas’ menjadi 300 ribu rupiah (uang pangkal) dan 2 juta (biaya kuliah per semester). “Ini karena saya menunjukkan kemiskinan saya, hahahaha….” Oghi tergelak.

Kedua rizki di atas akhirnya sempurna oleh rizki ketiga. Oghi mendapatkan Beasiswa Bidik-Misi dari Kemendiknas sebesar Rp5 juta. “Dua juta saya alokasikan untuk biaya kuliah, sisanya untuk biaya hidup.”

Apa rahasia dibalik pencapaiannya selama ini?

“Rahasianya nggak ada...kecuali yakin sama kekuatan dahsyat kita sendiri dan percaya bahwa hasilnya nanti adalah yang terbaik buat kita. Nothing to lose, istilahnya.”

Sebagai penutup perbincangan kami siang itu, dengan tatapan matanya yang cerah dan senyumnya yang khas, Oghi berpesan untuk anak sekolah yang mengalami keterbatasan biaya namun tetap ingin melanjutkan pendidikannya.

“Ketika masih dalam usia anak dan remaja, jangan pernah berpikir bahwa bekerja lebih baik ketimbang belajar (sekolah). Belajar itu wajib, musti, kudu. Belajar itu tuntutan hidup. Belajar itu sampai akhir hayat. Berusahalah terus untuk bersekolah.”

Terima kasih, Oghi! Kau dan perjuanganmu telah menginspirasi kami....

***

Nah, begitulah contoh tulisan feature a la gue. Semoga bermanfaat...terutama setelah gue lama banget nggak ngeblog karena badai kesibukan kuliah yang menerpa jiwa dan raga ini.

Salam!

22 comments:

  1. kerennn dch mas panjul,,,,btw,,,badai kuliah nya hebat gt,,ampe keraga dan jiwa nyerangnya haha

    ReplyDelete
  2. Super skali! Sungguh menginspirasi..

    ReplyDelete
  3. Kadang-kadang, penulis komedi dan motivator itu emang beda tipis, ya... -___-"

    ReplyDelete
  4. gw stuju sama Zulfian.. hahah cerita yang menginspirasi berkolaborasi dengan bahasa pengemasan yang komedi abis ini enak bgt dibaca..

    hidup emang serius tp ga bole dibawa tegang yaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yep! You got my idea.
      Anak pinteeeerrr...! :D

      Delete
  5. makasih udah kasih contoh tulisan featurenya.. ngebantu banget buat tugasku.. :)

    ReplyDelete
  6. thanks bantu banget buat tugas matkul gw.

    ReplyDelete
  7. Tulisan yang mengna, sederhana dan tepat sasaran. Mengandung teknis penulisan feature yang memadai sekaligus kontent Oghi yang menginspirasi. Selamat Gan, layak sebagai sumber belajar. Tetapi maaf Gan ada kritik sedikit (1) mengapa Agan tidak jujur, dengan menyampaikan bahwa wawancara dengan Oghi itu malam hari? (2) Pada kutipan terakhir, terasa kurang mantap, karena dibiarkan berdiri sendiri. Coba misalnya diberi pernyataan penulis dengan kata-kata: Demikian Oghi menyampaikan filosofinya dengan sepenuh jiwanya. Dan kamipun mengakhiri pertemuan dengan Oghi dengan berucap kepadanya Terima kasih, Oghi! Kau dan perjuanganmu telah menginspirasi kami....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm saran dan kritik yang membangun. Terimakasih, Pak Cokroaminoto. :)

      Delete
  8. Halo, tuisannya bagus. Sangat menginspirasi. Boleh ya gan saya izin numpang copas untuk tugas uas saya hehehe

    Makasih........ #padahalbelomdiijinin :-p

    ReplyDelete
  9. Untuk semua orang yang minta izin copy-paste, silakaaan!
    Tapi pahami juga ilmunya ya, biar kalo ditanya bisa jawab. Hehehe.

    ReplyDelete